النبي صلى الله عليه وسلممعلماً

 

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Seorang Pendidik

 

كتبه
Dr. Munqidz bin Mahmud As Saqqar

بسم الله الرحمن الرحيم

  1. I. Sebutan “pendidik” diberikan kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam

Tidak diragukan lagi bahwa tugas nabi dan rasul adalah mendidik umatnya dan menunjukkan kebaikan kepada mereka. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, (Al Jumu’ah: 2)

“Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (Al Baqarah: 151)

Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui sahabat-sahabatnya, Beliau melihat mereka membaca Al Qur’an dan mempelajarinya, maka Beliau bersabda kepada mereka, “Sesungguhnya aku diutus sebagai pendidik.”[1]

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mengutusku untuk memberatkan dan tidak sebagai orang yang memberatkan diri, akan tetapi Dia mengutusku sebagai pendidik dan pemberi kemudahan.[2]

Mu’awiyah bin Hakam pernah berkata, “Aku belum pernah melihat seorang pendidik yang lebih baik dari Beliau baik sebelum maupun sesudahnya.”[3] Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan, “Aku belum pernah sama sekali melihat seorang pendidik yang paling lembut daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[4]

  1. II. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pendidik terbaik

Anda dapat melihat dalam materi-materi pendidikan bahwa cara terbaik mengukur sejauh mana kualitas seorang pendidik adalah dengan melihat hasil yang diperoleh peserta didik. Jika kita bersandar kepada prinsip ini, tentu kita akan mengetahui bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pendidik dan pengajar terbaik. Murid-murid hasil pendidikan Beliau disebut oleh Allah Azza wa Jalla, “Kalian adalah sebaik-baik umat” (Ali Imran: 110)

  1. III. Akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang perlu dimiliki oleh setiap pendidik

Kepribadian dan akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung sangat banyak. Di sini, kami akan menyebutkan beberapa akhlak Beliau yang dibutuhkan oleh setiap pendidik yang ingin mengikuti jejak Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengemban tugas mendidik dan mentarbiyah.

  1. 1. Hirsh (perhatian)

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At Taubah: 128)

(Beliau pernah bersabda):

“Wahai Abu Dzar, sesungguhnya saya melihat dirimu lemah dan saya menginginkan untukmu sesuatu yang sama untukku.”[5]

“Sesungguhnya perumpamaan diriku dengan umatku adalah seperti seorang yang menyalakan api. Ketika itu binatang dan laron berjatuhan ke dalamnya. Aku mencegah kalian, namun kalian malah melemparkan diri ke dalamnya.”[6]

  1. 2. Lembut dalam memberikan pengarahan

(Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda):

“Sesungguhnya Allah lembut. Dia menyukai kelembutan dalam semua perkara.”[7]

Sedangkan dalam riwayat Muslim disebutkan, “Sesungguhnya kelembutan tidak ada pada sesuatu kecuali akan menghiasnya dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali akan mengotorinya.[8]

Di antara kelembutan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah apa yang disebutkan Anas bin Malik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Beliau memanggilnya, “Wahai anakku.[9]

Anas pelayan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya. Suatu hari, Beliau mengutusku untuk suatu keperluan, lalu aku berkata, “Tidak! Demi Allah, aku tidak akan pergi.” Padahal dalam diriku ada niat untuk pergi karena diperintah oleh Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pun keluar hingga melewati sekumpulan anak-anak yang sedang bermain di pasar, dan ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memegang pundakku dari belakang. Aku berbalik melihat Beliau, ternyata Beliau tersenyum, dan bersabda, “Wahai Anas kecil! Apakah kamu sudah pergi ke tempat yang aku perintahkan? Aku menjawab: “Ya, aku akan pergi wahai Rasulullah.”

Di antara kelembutan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah apa yang disebutkan Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib saat ia mengatakan, “Kemudian Beliau mengusap kepalaku tiga kali.”[10]

Di antara kelembutan Beliau lainnya adalah memperlihatkan kecintaan kepada para sahabatnya sampai masing-masing di antara mereka mengira bahwa dirinyalah yang dipilih Beliau. Amr bin ‘Ash pernah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menghadapkan muka dan pembicaraannya kepada orang yang jahat untuk melembutkan hatinya. Beliau pernah menghadapkan muka dan mengarahkan pembicaraannya kepadaku sehingga aku mengira bahwa diriku adalah orang yang paling baik. Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, aku lebih baik ataukah Abu Bakar?” Beliau menjawab, “Abu Bakar.” Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, aku lebih baik ataukah Umar?”…..[11]

Jarir bin Abdullah Al Bajalliy pernah berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menutup dirinya dariku sejak aku masuk Islam, dan tidaklah Beliau melihatku kecuali selalu bersenyum di hadapanku.”[12]

Jabir bin Abdullah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah diminta lalu menanggapinya dengan jawaban “Tidak.”[13]

Anas berkata, “Demi Allah, aku telah melayani Beliau selama sembilan tahun. Aku belum pernah melihat Beliau mengatakan terhadap perbuatan yang aku lakukan, “Mengapa kamu melakukan perbuatan ini dan itu?” Atau mengatakan terhadap perbuatan yang tidak aku lakukan, “Mengapa kamu tidak melakukan perbuatan ini dan itu? “[14]

Dalam sebuah riwayat Ahmad disebutkan, “Beliau tidak mengatakan kepadaku kata-kata “ah”.[15]

Dalam riwayat Ahmad lainnya disebutkan, “Demi Allah, Beliau tidak pernah memakiku meskipun sekali dan tidak pernah mengatakan “ah” kepadaku.”[16]

Demikian juga dalam kisah Mu’awiyah bin Hakam, saat ada seorang yang bersin ketika shalat di depannya, ia pun mendo’akan orang tersebut ketika sedang shalat. Mu’awiyah berkata: “Lalu para sahabat memperhatikan diriku, maka aku berkata, “Celaka kalian, mengapa kalian memperhatikan aku?” mereka pun kemudian menepukkan tangannya ke paha. Saat aku melihat mereka bermaksud mendiamkan aku, aku pun diam. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, Beliau memanggilku. Biarlah bapak dan ibuku menjadi tebusannya. Beliau sama sekali tidak memukulku, membentakku dan memakiku. Aku belum pernah melihat orang yang paling baik pendidikannya sebelum maupun sesudahnya daripada Beliau.”[17]

Pernah suatu ketika orang Arab baduwi kencing di dalam masjid, lalu para sahabat mendatanginya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Biarkanlah dia, dan tuangkanlah ke atas kencingnya setimba air atau seember air, karena kalian diutus untuk memudahkan bukan untuk menyusahkan.”[18]

  1. 3. Tawadhu’

Termasuk akhlak yang patut dimiliki pendidik adalah bersikap tawadhu’ dengan murid-muridnya. Oleh karena itu, ia memperhatikan keadaan muridnya yang lemah, terhadap murid tersebut ia perlu memberikan tambahan penjelasan, penjabaran dan tambahan waktu.

Abu Rifa’ah pernah berkata, “Saya pernah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat Beliau sedang berkhutbah, lalu saya berkata, “Wahai Rasulullah, ada orang asing yang datang untuk bertanya tentang agamanya; ia tidak mengetahui apa agamanya?” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menghampiriku dan meninggalkan khutbahnya. Ketika telah sampai di dekatku, disiapkan kursi yang sepertinya kaki-kaki kursi tersebut terbuat dari besi, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di atasnya dan mengajarkan kepadaku ilmu yang diajarkan Allah kepadanya. Setelah itu, Beliau mendatangi khutbahnya dan melanjutkan kembali.”[19]

Dari Anas bin Malik, bahwa ada seorang wanita yang lemah akal berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya ada perlu denganmu”, maka Beliau bersabda, “Wahai Ummu fulan, lihatlah! Jalan mana yang kamu inginkan agar saya dapat memenuhi kebutuhanmu”, maka Beliau berjalan bersamanya  di sebagian jalan sampai wanita itu menyelesaikan keperluannya.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah ridha kepada terhadap orang yang lemah, namun kurang ridha jika yang melakukannya orang yang mampu. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada Dhamam bin Tsa’labah ketika ia datang sebagai utusan kaumnya saat Beliau berdakwah kepadanya dan menerangkan beberapa kewajiban dalam Islam. Dhamam berkata, “Demi Allah, saya tidak menambah lagi dan tidak akan mengurangi.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh beruntunglah dia, jika memang benar (seperti itu).”[20]

Akan tetapi, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ridha kepada yang lain ketika hanya membatasi dengan kewajiban-kewajiban dalam Islam saja, bahkan Beliau ridha jika mereka mau menambahkan dengan amalan sunah. Ubadah bin Ash Shaamit berkata, “Kami membai’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk selalu mendengar dan ta’at, baik ketika semangat maupun ketika tidak senang, dan agar kami tidak mencabut hak yang ada pada seseorang serta menegakkan atau mengatakan yang hak di mana saja kami berada tanpa takut celaan orang.”[21]

  1. 4. Menambahkan jawaban terhadap pertanyaan dalam hal yang menurutnya para peserta didik tidak mengetahui

Hal ini termasuk khidmat Beliau kepada ilmu bagi mereka yang berhak. Beliau terkadang menjawab pertanyaan melebihi pertanyaan yang diajukan ketika Beliau merasakan bahwa dalam hati mereka masih menggganjal sesuatu meskipun mereka tidak mengungkapkannya.

Pernah seseorang mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami akan mengarungi lautan, sedangkan kami hanya membawa air sedikit. Jika kami berwudhu’ menggunakan air tersebut, tentu kami akan kehausan. Bolehkah kami berwudhu’ dengan air laut?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Air laut suci dan halal bangkainya.”[22]

Sabda Beliau, “dan halal bangkainya” merupakan tambahan pengetahuan yang ditambahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada penanya yang hanya menanyakan tentang berwudhu’ menggunakan air laut. Hal itu, karena jika masalah seperti ini tidak mengerti, apalagi masalah yang lebih jauh lagi.

Pernah seseorang bertanya kepada Beliau tentang apa saja yang boleh dipakai oleh orang yang ihram, maka Beliau bersabda: “Orang yang ihram tidak boleh memakai gamis, sorban, celana, dan baju yang dicelup waras dan za’faran. Jika ia tidak memperoleh dua sandal, maka pakailah dua sepatu dan potong bagian atasnya agar tetap di bawah mata kaki.”[23]

Demikian juga pernah ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengatakan, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami tentang Saba’, apa itu? Apakah nama tempat atau nama wanita? Beliau menjawab, “Ia bukanlah nama tempat dan bukan nama wanita. Akan tetapi, ia adalah nama seorang laki-laki yang memiliki anak sepuluh, ia merasa optimis dengan anaknya yang enam orang dan merasa pesimis dengan anaknya yang empat orang.”[24]

Suatu ketika Beliau pernah bersabda kepada para sahabatnya, “Setan akan datang kepada salah seorang di antara kalian, lalu ia akan berkata, “Siapakah yang menciptakan benda ini? Siapakah yang menciptakan benda itu? sampai akhirnya ia mengatakan, “Siapakah yang menciptakan Tuhanmu?” Jika sampai ke arah itu, maka berlindunglah kepada Allah dan hentikanlah.”[25]

  1. 5. Tidak tergesa-gesa dalam menjawab pertanyaan dan tidak berbicara tanpa ilmu

(Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman):

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabannya.” (Al Israa’: 36)

Jabir bin Abdullah pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apa sikap yang harus aku lakukan terhadap hartaku? Bagaimana aku harus menyelesaikan masalah hartaku? Beliau tidak menjawab apa-apa sampai turun ayat tentang warisan.[26]

Pernah seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, negeri manakah yang ada keburukannya?” Beliau menjawab, “Saya tidak tahu, sampai nanti saya akan bertanya kepada Tuhanku. Ketika Jibril ‘alaihis salam datang, Beliau bertanya, “Wahai Jibril, negeri mana yang ada keburukannya?…dst.[27]

  1. IV. Cara menyikapi orang yang keliru dan orang yang meremehkan

Karena sikap remeh, keliru dan kejahilan merupakan perkara yang sudah biasa terjadi pada anak-anak dan para peserta didik, mungkin kita bertanya-tanya, “Bagaimanakah sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menghadapi hal-hal seperti ini?” Pada contoh-contoh berikut, kami akan membacakan jawabannya dan anda tinggal pegang prinsip tersebut.

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul sesuatu pun dengan tangannya. Beliau tidak memukul wanita dan pelayan kecuali dalam jihad fii sabilillah.”[28]

Ketika Ka’ab bin Malik tidak ikut berjihad dalam perang Tabuk, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari perang tersebut, Ka’ab datang. Ka’ab berkata, “Aku pun datang. Saat aku mengucapkan salam kepadanya, maka Beliau bersenyum dengan senyuman orang yang marah.”[29]

Saat Beliau berada dalam masjid, tiba-tiba ada orang Arab baduwi yang masuk dan berdiri sambil buang air kecil di masjid, para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Hentikan, hentikan”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jangan kalian hentikan, biarkanlah dia”, merekapun membiarkan sampai orang baduwi itu menyelesaikan kencingnya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya dan bersabda kepadanya, “Sesungguhnya masjid ini tidak pantas terkena air kencing ini dan kotoran, ia digunakan untuk dzikrullah Azza wa Jalla, shalat dan membaca Al Qur’an.”[30]

Dalam sebuah riwayat Tirmidzi disebutkan, bahwa Beliau bersabda kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan, bukan untuk menyusahkan.”[31]

Ada kisah seorang pemuda yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta izin berzina, lalu para sahabat melarangnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dekatkanlah ia denganku”, maka ia mendekat kemudian duduk, lalu Beliau bersabda, “Sukakah kamu jika ada yang menzinahi ibumu?” Ia menjawab, “Tidak, demi Allah, biarlah Allah menjadikanku tebusanmu” Beliau bersabda: “Demikian juga orang lain, tidak suka jika ada yang menzinahi ibu mereka.” Beliau bersabda, “Sukakah kamu jika ada  yang menzinahi puterimu?”….dst. Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya dan jagalah farjinya.”[32]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menghajr (tidak berkomunikasi) Ka’ab bin Malik ketika ia tidak ikut dalam perang Tabuk dan memerintahkan para sahabatnya agar tidak berbicara dengannya.[33]

Pernah ada seseorang di dekat Beliau yang masih nampak bekas warna kuning pada dirinya (yang biasanya dipakai wanita-pent), padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya tidak menghadap orang lain dengan sesuatu yang tidak disukainya. Ketika orang itu berdiri, Beliau bersabda kepada yang lain, “Kalau saja kalian mengatakan kepadanya agar ia meninggalkan warna kuning tersebut”.[34]

Demikian juga telah disebutkan sebelumnya hadits tentang sikap Beliau kepada orang yang berbicara ketika shalat dan kisah Anas yang terlambat dalam menunaikan keperluannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah membenarkan mendidik dengan pukulan sebagaimana dalam kisah Abu Bakar dengan pembantunya, ketika ia menghilangkan untanya, maka Abu Bakar memukulnya, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya tersenyum dan bersabda, “Lihatlah kepada orang yang melarang ini, apa yang dilakukannya?”[35]

  1. V. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah lebih dulu menggunakan wasilah (sarana) yang sekarang baru didengung-dengungkan oleh para ahli di bidang pendidikan

Di antara wasilah yang digunakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

  1. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membuatkan perumpamaan

Contohnya sangat banyak. Terkadang Beliau  mengumpamakan orang mukmin dengan pohon kurma[36], sekumpulan orang dengan sebuah perahu[37] dan pengumpamaan kawan yang buruk dengan tukang besi yang meniup kir (alat untuk memanaskan besi)[38].

  1. Mengajukan pertanyaan

Contohnya pun banyak. Misalnya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tahukah kalian siapakah orang bangkrut?[39], sabda Beliau, “Tahukah kalian apa ghibah itu?”[40]dan sabda Beliau, “Tahukah kalian hari apa ini?”[41]

  1. Menyebutkan sesuatu tiba-tiba atau memberitakan sesuatu tiba-tiba tanpa diawali pengantar dahulu (dengan maksud agar seseorang lebih serius menyimak)

Contoh dalam hal ini juga banyak. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Rugilah seseorang, rugilah seseorang dan rugilah seseorang. Lalu ada yang bertanya, “Siapakah wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Yaitu orang yang mendapatkan kedua orang tuanya sudah tua atau salah satunya, namun tidak memasukkannya ke surga.”[42]

Suatu ketika pernah ada sebuah jenazah yang lewat di hadapan para sahabat, lalu mereka memujinya, maka Nabiyyullah bersabda, “Mesti dan mesti”, lalu ada lagi sebuah jenazah yang lewat, lalau para sahabatnya menyebut buruk terhadapnya, maka Nabiyyullah bersabda, “Mesti dan mesti.” Umar lantas berkata, “Biarlah bapak dan ibuku menjadi tebusanmu, mengapa ketika lewat sebuah jenazah….dst.[43]

Sesekali Beliau pernah bersabda, “Siapkanlah mimbar”, maka kami pun menyiapkan. Ketika Beliau menaiki tangga pertama, Beliau mengucapkan “Amin”, menaiki tangga kedua, Beliau mengucapkan, “Amin” dan ketika menaiki tangga ketiga Beliau mengucapkan “Amin”. Saat Beliau turun, kami berkata, “Wahai Rasulullah, hari ini kami mendengar darimu sesuatu yang sebelumnya kami belum pernah dengar….dst.”[44]

  1. Sedikit kata-kata dan diadakan pengulangan agar benar-benar menancap di hati pendengar

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika  menyampaikan hadits, jika seandainya ada yang mau menghitung kata-katanya tentu bisa menghitung.”[45]

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Beliau apabila mengucapkan salam, mengucapkannya sebanyak tiga kali dan bila mengucapkan kata-kata, mengulanginya tiga kali.”[46]

Dalam sebuah riwayat Bukhari ada tamabahan, “Sampai dapat dipahami.”[47]

Ditulis oleh:

Dr. Munqidz bin Mahmud As Saqqar


[1] HR. Ibnu Majah no. 229 dari hadits Abdullah bin ‘Amr, namun dalam sanadnya ada kelemahan.

[2] HR. Muslim no. 2284 dari hadits Jabir.

[3] HR. Muslim no. 537.

[4] HR. Abu Dawud no. 931.

[5] HR. Muslim no. 1826 dari hadits Abu Dzar.

[6] HR. Muslim no. 2284 dari hadits Abu Hurairah, sama seperti itu dalam Shahih Bukhari no. 3427.

[7] HR. Bukhari no. 6927 dari hadits Aisyah.

[8] HR. Muslim no. 2594.

[9] HR. Ahmad dalam Al Musnad no. 12648.

[10] HR. Ahmad dalam Al Musnad no. 1763.

[11] HR. Tirmidzi dalam Asy Syamaa’il no. 295.

[12] HR. Bukhari no. 5739.

[13] HR. Tirmidzi dalam Asy Syamaa’il no. 302.

[14] HR. Muslim no. 2310 dari hadits Anas.

[15] No. 1609.

[16] No. 12622.

[17] HR. Nasa’i no. 1218 dari hadits Mu’awiyah, demikian juga Abu Dawud no. 930.

[18] HR. Bukhari no. 220, sama seperti itu dalam Muslim no. 284 dari riwayat Abu Hurairah.

[19] HR. Muslim no. 876 dari hadits Abu Rifa’ah.

[20] HR. Bukhari  no. 46 dari hadits Thalmah bin Abdullah.

[21] HR. Bukhari no. 6774 dari hadits Ubadah bin Ash Shaamit.

[22] HR. Bukhari no. 69 dari hadits Abu Hurairah.

[23] HR. Bukhari no. 134 dari hadits Ibnu Umar, dan Muslim no. 1177.

[24] HR. Abu Dawud no. 3988.

[25] HR. Bukhari no. 3276 dari hadits Abu Hurairah, Muslim no. 134.

[26] HR. Bukhari no. 6723 dari hadits Jabir, demikian juga sama seperti itu dalam Muslim no. 1616.

[27] HR. Ahmad dalam Al Musnad no. 16302 dari hadits Jubair bin Muth’im.

[28] HR. Muslim no. 2328 dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha.

[29] HR. Bukhari no. 4156 dari hadits Ka’ab bin Malik.

[30] HR. Muslim no. 285 dari hadits Anas.

[31] HR. Tirmidzi no. 147.

[32] HR. Ahmad no. 21708 dari hadits Abu Umamah.

[33] Disebutkan oleh Bukhari dalam Shahihnya no. 4156 dari hadits Ka’ab bin Malik.

[34] HR. Tirmidzi dalam Asy Syamaa’il no. 297 dari hadits Anas, dalam isnadnya ada orang yang dha’if.

[35] HR. Abu Dawud no. 1818 dari hadits Asma’.

Catatan:

Penulis dalam menyebutkan contoh-contoh di atas ingin menerangkan bahwa sikap kita dalam menghadapi sikap murid yang terkadang ada yang meremehkan, ada yang melakukan kekeliruan (tidak sengaja) dan ada yang karena kejahilan berbeda-beda, likulli maqaamin maqaal (masing-masing keadaan, ada sikap dan cara tersendiri dalam menghadapinya). Tidak mungkin orang yang jahil (tidak mengetahui) disikapi seperti sikap kepada orang yang sudah tahu namun malah meremehkan. Kepada orang yang jahil dan orang yang keliru (tidak sengaja), maka sikap kita adalah lembut, namun kepada orang yang sudah tahu, maka sikap kita lebih tegas lagi untuk mendidiknya seperti dengan menampakkan muka masam, tidak berbicara dengannya, menghajrnya dsb.

Hajr terbagi menjadi dua: mamnu’ (terlarang) dan masyru’ (disyari’atkan). Hajr yang mamnu’ adalah hajr karena masalah pribadi, dalam hal ini diperbolehkan jika dibutuhkan, namun tidak boleh lebih dari tiga hari.  Sedangkan hajr yang masyru’ adalah karena ada maslkahat syar’i, seperti agar dia bertaubat dari kemaksiatan atau kesyirkkan dan kebid’ahan. Dalam hal ini tidak dibatasi sampai tiga hari, karena tujuannya agar pelakunya mau kembali dan bertaubat sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghajr Ka’ab bin Malik sampai sebulan. Hajr pun dilakukan dengan melihat maslahat dan madharrat, yakni hajr dilakukan jika memang membuahkan hasil, membuat pelaku maksiat tersebut mau kembali dan bertaubat, namun jika tidak membuatnya kembali, bahkan malah menjauh dan bertambah terus melakukan kemunkaran, maka tidak perlu dilakukan hajr, karena tidak mewujudkan maslahat syar’i. Sikap yang perlu dilakukan terhadap orang tersebut adalah dengan tetap berbuat ihsan, menasehatinya dan mengingatkannya. Inilah hikmah (kebijaksanaan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bersikap, Beliau menghajr Ka’ab bin Malik dan dua sahabatnya karena memang ada masslahatnya, dan tidak menghajr Abdullah bin Ubay bin Salul dan kaum munafik lainnya karena tidak menghajrnya lebih bermaslahat bagi mereka, wallahu a’lam. (Pent).

[36] Dalam hadits Bukhari no. 61 dari hadits Ibnu Umar.

[37] Dalam hadits Bukhari no. 2540 dari hadits Nu’man bin Basyir.

[38] Dalam hadits Bukhari no. 5214 dari hadits Abu Musa.

[39] HR. Muslim no. 2581 dari hadits Abu Hurairah.

[40] HR. Muslim no. 2589 dari hadits Abu Hurairah.

[41] HR. Bukhari no. 1654 dari hadits Abu Bakrah.

[42] HR. Muslim dalam Shahihnya no. 3551 dari hadits Abu Hurairah.

[43] HR. Muslim no. 949 dari hadits Anas.

[44] HR. Hakim dari hadits Ka’ab bin Ujrah.

Hadits ini disebutkan dalam Shahihut Targhib wat Tarhib no. 995 karya Syaikh Al Albani dengan derajat shahih lighairih. Hadits ini menerangkan tentang kerugian bagi orang yang menjumpai bulan Ramadhan namun dosa-dosanya tidak diampuni, orang yang mendengar nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut namun tidak bershalawat dan orang  yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah satunya sudah tua tetapi tidak memasukkannya ke dalam surga (Pent).

[45] HR. Abu Dawud no. 3654 dari hadits Aisyah.

[46] HR. Bukhari no. 94.

Ada yang berpendapat mungkin Beliau mengucapkan salam tiga kali ketika meminta izin masuk ke sebuah rumah, ada juga yang berpendapat bahwa Beliau melakukan hal itu karena khawatir tidak terdengar dan ada juga yang berpendapat bahwa Beliau melakukan hal itu ketika meminta izin masuk rumah, ketika bertemu dan berpisah, tiga kali ini hukumnya sunat (Pent).

[47] HR. Bukhari no. 95.