Cara Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak

(Mengikuti Petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Para sahabatnya)

Oleh: Abu Yahya Marwan

Berikut ini cara-cara mempengaruhi jiwa dan akal anak yang kami ambil dari tulisan Muhammad Rasyid Dimas berjudul Al Inshaat Al ‘Ink’ikaasiy (25 thariiqah lit ta’tsir fii nafsith thifli wa ‘aqlih) dan kami beri tambahan dengan beberapa hadits yang kami ketahui:

1. Temanilah anak anda dan jadilah teladan baginya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemani anak-anak di segenap tempat, terkadang Beliau menemani Ibnu Abbas berjalan, Anas bin Malik dan lainnya.

Menemani anak memiliki peranan besar dalam mempengaruhi jiwa anak. Oleh karena itu, dalam menemani anak hendaknya orang tua memperlihatkan teladan yang baik bagi anak agar dapat ditiru.

2. Penuhilah hak-hak anak

Di antara hak penting bagi anak adalah diberikan pemahaman, partisipasi dan nasehat ketika salah dalam bertindak. Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diberi minuman, lalu Beliau meminumnya dan di sebelah kanannya terdapat seorang anak kecil, sedangkan di sebelah kirinya terdapat orang-orang tua. Lalu Beliau bertanya kepada anak kecil itu, “Apakah kamu mengizinkanku untuk memberikan kepada mereka?” Anak itu menjawab, “Tidak, demi Allah, janganlah seorang pun mendahului bagianku darimu.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan gelas itu di tangan anak kecil.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Tanamkan kebahagiaan dan kesenangan dalam jiwanya

Setelah Fath Makkah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Bilal naik ke atas Ka’bah untuk mengumandangkan azan. Bilal pun mengumandangkan azan untuk pertama kalinya. Di sela-sela itu, sebagian kaum musyrikin Quraisy mengolok-olok dan menirukan suara Bilal dengan nada marah. Di antara mereka adalah Abu Mahdzurah yang memiliki suara paling bagus. Ketika ia mengolok-olok azan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarnya dan memerintahkan untuk dibawa ke hadapan Beliau. Ia menduga bahwa ia pasti dibunuh. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah mengusap ubun-ubun dan dadanya dengan tangan Beliau. Abu Mahdzurah pun berkata, “Hatiku sudah terpenuhi keimanan dan keyakinan, dan saya mengetahui bahwa Beliau adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan azan kepadanya serta memerintahkan untuk mengumandangkan azan untuk penduduk Makkah, pada saat itu umurnya adalah 16 tahun.

4. Coba praktikkan cara “Barangsiapa yang dahulu melakukan ini, maka baginya ini dan itu”

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:

« إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لاَ يَسْقُطُ وَرَقُهَا ، وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ ، فَحَدِّثُونِى مَا هِىَ ؟ » . فَوَقَعَ النَّاسُ فِى شَجَرِ الْبَوَادِى . قَالَ عَبْدُ اللَّهِ : وَوَقَعَ فِى نَفْسِى أَنَّهَا النَّخْلَةُ ، فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا : حَدِّثْنَا مَا هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ :« هِىَ النَّخْلَةُ » .

“Sesungguhnya di antara pepohonan ada sebuah pohon yang daunnya tidak gugur, dan ia seperti seorang muslim. Coba terangkanlah kepadaku apa itu?” Orang-orang pun memikirkan pohon-pohon di padang pasir. Ibnu Umar berkata, “Sedangkan dalam diriku ada perasaan bahwa yang dimaksud adalah pohon kurma, namun saya malu,” lalu orang-orang bertanya, “Beritahukanlah kami apa itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Itulah pohon kurma.” (HR. Bukhari)

5. Bermainlah dengan anak anda dan belikan mainan untuknya

Di dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat, saat sujud Beliau lama sekali padahal Beliau mengimami orang-orang. Hal itu Beliau lakukan dikarenakan di atas punggung Beliau ada cucu Beliau Al Hasan atau Al Husain yang menaiki pnggung Beliau saat Beliau sujud.

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ الرَّبِيعِ قَالَ : عَقَلْتُ مِنَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم مَجَّةً مَجَّهَا فِى وَجْهِى وَأَنَا ابْنُ خَمْسِ سِنِينَ مِنْ دَلْوٍ .

Dari Mahmud bin Ar Rabii’ ia berkata, “Saya masih ingat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyemprotkan air dari timba ke mukaku, saat aku masih berusia 5 tahun.” (HR. Bukhari)

Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim seseorang pada pagi hari Asyura (10 Muharram) ke desa-desa Anshar (untuk menyerukan): “Siapa yang sudah berniat puasa maka sempurnakanlah puasanya dan siapa saja yang pada pagi harinya tidak berniat puasa maka hendaknya ia berpuasa”, maka setelah itu kami berpuasa dan menyuruh anak-anak kami yang masih kecil berpuasa, kami pergi ke masjid setelah membuatkan mainan untuk mereka dari bulu domba, jika salah seorang di antara mereka menangis karena meminta makan, maka kami pun memberikannya sehingga sampai menjelang berbuka.” (HR. Bukhari-Muslim)

6. Gunakan cara “Tidak ada yang menghalangimu untuk mengatakannya” terhadapnya

Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ubaid bin Umar ia berkata: Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu suatu hari pernah berkata kepada para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tentang siapakah ayat ini turun, “Ayawaddu  ahadukum an takuuna lahuu jannatum min nakhiil wa a’naab…dst.” (Al Baqarah: 266) Mereka menjawab, “Allah lebih tahu.” Maka Umar marah dan berkata, “Katakanlah kami tahu atau tidak tahu.” Lalu Ibnu Abbas berkata, “Dalam diriku ada sesuatu tentangnya wahai Amirul Mukminin.” Lalu Umar berkata, “Wahai putera saudaraku, katakanlah dan jangan engkau rendahkan dirimu.” Ibnu Abbas berkata, “Diberikan suatu perumpamaan untuk suatu amalan.” Umar berkata: “Amalan apa?” Ibnu Abbas berkata: “Bagi orang kaya yang mengerjakan ketaatan kepada Allah, lalu Allah mengirimkan setan kepadanya, maka ia mengerjakan perbuatan maksiat, hingga menenggelamkan seluruh amalan baiknya.”

7. Kembangkan kepercayaan dirinya

 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ خَدَمْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ وَاللَّهِ مَا قَالَ لِي أُفًّا قَطُّ وَلَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ لِمَ فَعَلْتَ كَذَا وَهَلَّا فَعَلْتَ كَذَا

Dari Anas bin Malik ia berkata: Aku melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah berkata kepadaku “ah,” dan tidak pernah mengatakan kepadaku karena suatu hal yang terjadi, “Kenapa kamu lakukan itu?” atau “Mengapa kamu tidak lakukan yang ini?” (HR. Bukhari dan Muslim)

8. Gunakan cara “Dialah sebaik-baik anak” dalam menyikapinya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

نِعْمَ الرَّجلُ عبدُ اللَّهِ لَو كانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ

“Sebaik-baik lelaku adalah Abdullah seandainya ia mau menunaikan shalat malam.”

9. Jadikanlah ia menyukai kebaikan dan menghindari keburukan

Misalnya adalah dengan mengingatkan firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu Menganiaya hamba-hambaNya. (Fushshilat: 46)

10. Biasakanlah anak anda dengan kebaikan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلاَةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ وَ إِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَ فَاضْرِبُوْهُ عَلَيْهَا

“Perintahkanlah anak-anak kalian mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (ketika meninggalkannya) saat mereka telah berumur sepuluh tahun.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 5876)

11. Responlah kecenderungannya

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mempunya seorang adik yang dipanggil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Abu Umair, ia memelihara burung kecil disebut Nughair. Suatu ketika burung itu mati, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ » .

“Wahai Abu Umair, apa yang terjadi pada Nughair.” (HR. Bukhari)

12. Tunggulah waktu yang tepat untuk memberikan pengarahan kepadanya

Abdullah bin Abbas radhiallahuanhuma, berkata: Suatu saat saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau bersabda, “Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: Jagalah Allah, niscaya dia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada dihadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. (HR. Tirmidzi, ia berkata: “Hadits hasan shahih”)

13. Lakukan tahapan dalam memberikan pengarahan, pembebanan dan perintahlah kepadanya

Oleh karenanya Islam memerintahkan kepada anak usia tujuh tahun untuk shalat, hingga pada saat sudah berusia 10 tahun jika ternyata meninggalkan shalat, maka dipukul.

14. Berkatalah yang jujur kepadanya

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang berkata kepada anak kecil, “Kemarilah (dengan mengiming-imingi) ini untukmu”, lalu ia tidak memberinya, berarti ia telah berdusta.” (HR. Ahmad)

15. Berbicaralah sesuai dengan kemampuan akalnya

Sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

« يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ » .

“Wahai Abu Umair, apa yang terjadi pada Nughair.”

Kalimat di atas pendek, mudah diucapkan, mudah dipahami dan isinya jelas. Kalimatnya mudah dihapal karena adanya sajak dan terdapat pemisahan kalimat yang sesuai dengan jiwa anak.

16. Gunakanlah cara “Tidak ada yang menghalangimu” wahai anakku

Lihat kisah Umar bin Khaththab dengan Ibnu Abbas di no. 6

 

17. Doronglah untuk menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (Al Ahzaab: 21)

18. Berdo’alah yang baik untuknya dan jangan mendo’akan keburukan atasnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita mendoakan keburukan untuk keluarga kita; isteri dan anak-anak serta memerintahkan kita untuk mendo’akan kebaikan bagi mereka. Beliau bersabda:

لاَ تَدْعُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَ لاَ تَدْعُوْا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ وَ لاَ تَدْعُوْا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لاَ تُوَافِقُوْا مِنَ اللهِ سَاعَةً يَسْأَلُ فِيْهَا عَطَاءً فَيَسْتَجِيْبُ لَكُمْ

“Janganlah kamu mendoakan keburukan untuk dirimu, untuk anakmu dan untuk hartamu, agar tidak bertepatan dengan waktu yang jika seseorang meminta niscaya Allah akan kabulkan.” (HR. Muslim)

Dalam Al Qur’an, Allah menyifati hamba-hamba pilihan-Nya, di mana di antara do’a yang mereka panjatkan adalah:

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al Furqaan: 74)

19. Latihlah mendidik dengan berbagai kejadian

Di antara metode Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengajarkan ilmu adalah menyampaikannya pada saat-saat yang tepat dan sesuai. Ketika terjadi sesuatu, di sana Beliau menyampaikan ilmu agar lebih dapat dipahami dan diresapi. Contohnya adalah apa yang disebutkan dalam hadits berikut:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ – رضى الله عنه – : قَدِمَ عَلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم سَبْىٌ ، فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْىِ قَدْ تَحْلُبُ ثَدْيَهَا تَسْقِى ، إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِى السَّبْىِ أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ ، فَقَالَ لَنَا النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم : « أَتَرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِى النَّارِ » . قُلْنَا : لاَ وَهْىَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لاَ تَطْرَحَهُ . فَقَالَ :« اللَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا » .

Dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, bahwa pernah ada para tawanan yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara tawanan itu ada seorang wanita yang memerah susunya untuk memberi minum, jika ia menemukan anaknya dalam tawanan, ia segera mengambilnya dan memeluknya dengan perutnya serta menyusukannya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami, ”Apakah menurutmu, wanita ini akan melemparkan anaknya ke neraka.” Kami (para sahabat) berkata, “Tidak. Padahal dia mampu untuk tidak melemparnya.” Maka Beliau bersabda, “Allah Subhaanahu wa Ta’aala lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini kepada anaknya.” [HR. Bukhari dan Muslim].

20. Sibukkan waktu luangnya dengan segala hal yang bermanfa’at

Waktu luang yang ada hendaknya disibukkan dengan kebaikan agar ia terbiasa, karena sifat anak itu biasanya aktif, selalu ingin berbuat. Agar perbuatannya tidak terjatuh ke dalam yang diharamkan, maka caranya adalah dengan menyibukkan banyak kebaikan, seperti belajar, membaca Al Qur’an dan menghapalnya, jalan-jalan memperhatikan kekuasaan Allah di alam semesta dsb.

21. Penuhilah hari-harinya dengan aktifitas-aktifitas yang mengembangkan kecerdasannya

22. Gunakan pola pendidikan dengan mau’izhah

Contohnya adalah yang dilakukan oleh Luqman kepada anaknya, di mana Beliau memberikan nasehat-nasehat penting kepada anaknya, lihat surat Luqman ayat 13-19.

23. Gunakanlah cerita dalam menanamkan nilai-nilai dan berbagai keutamaan

Secara sangat luas, Al Qur’an telah menggunakan cerita dalam menetapkan nilai-nilai keimanan, memperkokokh dan memberdayakannya dalam jiwa-jiwa kaum muslimin. Hal itu, karena cerita lebih dapat meresap di hati dan dapat merubah sikap seseorang.

——————————————————————————————-

Daftar Pustaka

 

1. Al Qur’anul Karim

2. Al Maktabatusy Syaamilah.

3. Barnaamaj Al Mausuu’ah Al Hadiitsiyyah Al Mushaghgharah (memuat Faidhul Qadir, Shahihul Jami’ dan Dha’iful Jami’) Oleh Markaz Nuurul Islam Li abhaatsil Qur’ani was Sunnah.

4.      Al Inshaat Al ‘Ink’ikaasiy (25 thariiqah lit ta’tsir fii nafsith thifli wa ‘aqlih) oleh Muhammad Rasyid Dimas

5.      Pengantar Psikologi oleh Dr. H. Syamsu Yusuf, LN, M.Pd.

6.      Psikologi Belajar oleh Muhibbin Syah.