Barra’ radhiallahu ‘anhu bercerita: “Pada waktu perang Ahzab saya melihat  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  menggali parit dan mengusung tanah galian sampai saya tidak dapat melihat dada beliau yang berbulu lebat, karena tebalnya tanah yang melumurinya”.

Anas radhiallahu ‘anhu berkata: “Kaum Anshar dan Muhajirin menggali parit dan mengusung tanah galian seraya mengucapkan :
“Kami adalah orang-orang yang telah berbaiat kepada Muhammad untuk setia kepada Islam selama kami masih hidup.“
Ucapan ini dijawab oleh Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Ya, Allah sesungguhnya tiada kebaikan kecuali kebaikan akherat maka berkatilah kaum Anshar dan Muhajirin.“

Jabir radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Ketika kami sedang sibuk menggali parit di Khandaq kami temukan sebongkah batu besar yang sukar untuk dipecahkan. Para sahabat melapor kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sebongkah batu menghambat kelancaran kami dalam penggalian Khandaq“.

Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Biarkan aku yang turun.“ Kemudian beliau segera bangkit, sedang perut beliau diganjal dengan batu. Sebelumnya kami tidak pernah merasakan makanan apa pun selama tiga hari. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam segera mengambil martil dan dipukulkannya di atas batu itu hingga hancur berupa pasir.

Kata Jabir ra: “Aku katakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah ijinkanlah aku untuk pulang sebentar.“ Sesampaiku di rumahku aku katakan kepada istriku,“ Aku lihat sesuatu pada diri beliau yang tidak boleh kita biarkan. Adakah kamu mempunyai sesuatu?“

Jawab istriku: “Ya, aku punya gandum dan seekor anak kambing.“ Kemudian anak kambing itu segera kusembelih dan gandum itu kutumbuk. Daging kambing itu kumasak dalam periuk dan tepung gandum kumasukkan ke dalam pembakaran roti. Aku kembali ke tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kukatakan: “Ya, Rasulullah saw, aku ada sedikit makanan. Datanglah engkau ke rumahku bersama seorang atau dua orang sahabatmu.“

Tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berapa banyakkah makanan itu?“ Setelah kusebutkan jumlah makanan itu beliau berkata, “Itu cukup banyak dan baik. Katakan pada istrimu jangan diangkat masakan itu dari atas tungku dan roti itu jangan pula sampai dikeluarkan dari tempat pembakarannya sebelum aku datang ke sana.“

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil kaum Muhajirin dann Anshar, “Bangkitlah kalian!“ Di dalam riwayat lain disebutkan: Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berteriak memanggil, “Wahai para penggali parit, mari kita datang. Sesungguhnya Jabir telah memasak makanan besar.“

Ketika aku masuk ke tempat istriku kukatakan padanya, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang bersama kaum Muhajirin dan Anshar dan orang yang bersama mereka.“

Tanya istriku: “Apakah beliau menanyakan berapa banyak makanan kita? Jawabku: “Ya.“ Istriku berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.“

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang seraya berkata: “Masuklah kalian dan jangan berdesakan.“

Kemudian Nabi saw memotong-motong roti dan dicampurkan pada daging serta kuah yang ada di periuk. Kemudian beliau mendekatkan hidangan kepada para sahabat sedang beliau tetap memotong-motong roti itu dan dalam waktu yang bersamaan para sahabat makan dengan puas sampai kenyang.

Mereka semuanya kenyang, sedangkan roti dan kuah masih tetap banyak sisanya. Beliau berkata, “Makanlah ini dan bagikanlah kepada orang banyak karena kini sedang terjadi musim paceklik.“
(HR. Bukhari)

Sebuah teladan tiada duanya dalam kepemimpinan. Tak heran jika membuahkan cinta yang tulus, loyalitas dan kepatuhan.

Ya, pemimpin yang sangat dekat dengan orang-orang yang dipimpinnya, merasakan apa yang diderita oleh mereka serta menemani mereka dalam tugas dan pekerjaan.

Bagaimana dengan kepemimpinan kita? Mari bercermin!