“Barang siapa yang menuntut ilmu untuk berbangga diri di hadapan ulama, mendebat orang-orang bodoh atau memalingkan wajah manusia kepadanya, maka dia telah mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Hakim, hadits hasan).

Allah mewajibkan mencari ilmu untuk mengangkat kebodohan dari diri manusia, sehingga ia mengenal Allah, RasulNya dan Islam. Dengan ilmu ini ia berangkat untuk menegakkan kalimah Allah dan menjadikannya dasar dalam mengatur dunia.

Allah sama sekali tidak rela jika tujuan ilmu ini dipalingkan ke lain arah yang tidak penting bagiNya.

Coba kita renungkan, apa sebenarnya yang kita dapat jika kita telah bisa menepuk dada di depan ulama’?! atau telah mampu mendebat orang yang kemampuannya lebih rendah?! atau telah berhasil menyedot perhatian orang sebanyak-banyaknya?!

:: Tidaklah aku mendebat seseorang kecuali aku mesti berharap Allah akan mengalirkan kebenaran melalui lisannya :: Demikian Imam Syafi’i mengajari kita.

Ibarat padi, semakin berisi semakin ia merunduk. Demikian pula manusia, ketika ilmu yang benar-benar ilmu itu mengisinya, maka ia pasti akan berhias dengan tawadlu’ dan rendah hati. Meski tidak dikenal manusia, tapi Allah sangat mengenalnya.