Teacher and Student

a teacher

Potret pertama

Guru yang menjadikan profesinya hanya sebagai sarana mengeruk keuntungan materi. Dia tidak memandang profesi ini kecuali dari sudut materi. Ambisi utama dan perhitungan pentingnya adalah untung rugi materi. Sesungguhnya profesi mengajar lebih mulia dari sekedar profesi resmi atau sumber penghidupan. Ia adalah pekerjaan mencetak generasi dan membangun umat.

Potret kedua

Guru yang mengeluhkan nasibnya. Guru bagi mereka adalah orang yang bernasib paling buruk. Rekan-rekannya, sebagian dari mereka telah meraih kedudukan tinggi yang paling buruk nasibnya adalah yang bisa minta ijin kapanpun dia mau, hadir kapanpun dia mau, berinteraksi dengan kertas-kertas bisu, bukan dengan jiwa-jiwa yang beragam. Adapun dia hidup diantara kebisingan anak-anak muda, teriakan anak-anak kecil, sesudah itu kembali ke pangkuan buku-buku tulis.

Ia merasa pesimis pada saat temannya optimis. Dia melihat dengan mata kerugian ketika temannya melihat dengan mata keberuntungan.

Potret ketiga

Guru yang acuh tak acuh, kehilangan ghirah. Melihat putra-putri kaum muslimin berenang di air kerusakan, terjerat jaring kemaksiatan, tetapi tidak ada sedikitpun dari dirinya yang tergerak atau semangatnya yang terpicu. Ini bukan urusannya, karena urusannya hanya mengajar fa’il dan maf’ul (subjek dan objek), atau menerangkan teori-teori atau rumus-rumus. Bahkan dia bisa saja mengajar ilmu-ilmu agama. Meskipun demikian, realita para peserta didik tidak penting baginya sedikitpun.

Potret keempat

Guru merasa memikul beban mengajar karena terpaksa, bukan karena pilihan sukarela. Dia tidak mendapatkan pekerjaan lain selainnya, atau karena ia ingin menetap di daerahnya. Inilah satu-satunya pilihan untuknya. Kondisinya seperti kata pepatah, “tidak ada rotan akarpun jadi”.

Potret kelima

Guru yang tidak membuang dunia di punggungnya, mentalaknya tiga kali atau tidak peduli kepadanya sama sekali. Guru yang selalu optimis dalam meraih –sama dengan yang lain- sumber rizkinya. Dia berpandangan bahwa dia pun berhak –sama dengan yang lain- menikmati profesi. Akan tetapi semua keinginannya itu tidak berbalik menjadi tujuan pertama dan utama, satu-satunya tolak ukur dan pendorong penting bagi keputusannya untuk meniti jalan pengajaran. Dia memilih jalan ini untuk berbakti kepada umat, mencetak generasi, dan mendidik tunas muda, menganggap mereka anak-anaknya. Dia berpandangan bahwa usaha memperbaiki mereka adalah skala prioritas profesinya, dan mendidik mereka merupakan tanggung jawabnya. Diapun akan memperoleh materi sama dengan yang lain, dapat hidup tenteram dan tenang.

Wahai saudaraku! Termasuk potret yang manakah kita?

Diambil dari:

Menjadi Guru yang Sukses & Berpengaruh karya Muhammad bin Abdullah Al-Duweisy